Jumat, 21 November 2014

Kadang Yang Kau Bilang Alay itu Ternyata Bisa Saja Dirimu Sendiri

Kadang kalau kita lihat Gondes (cari di Google/Kaskus yak) sekilas pikiran kita adalah: "Mereka kok alay ya?"

Padahal kita bisa saja lebih alay.

Sama seperti saat kita ngejek orang yang pacaran di media sosial. Kadang kita ngejek gaya alay anak pacaran, tapi waktu kita sendiri yang galau, kita lebih hina daripada mereka. Ibarat kita ngejek orang yang pup bentuk hati, padahal pup kita bentuknya segitiga sama kaki.


Membanggakan pacar atau hubunganmu di sosmed itu jahiliyah banget. Ya gak munafik sih,  aku dulu juga gitu. Cuma dari kesalahan itu aku belajar. Banyak yang bilang aku alay dan aku tersadar.

Meskipun bilangnya 'masa bodoh dengan apa yang orang katakan', tapi yang menilai kita kan orang lain? Seenggaknya kalau gitu kita harusnya dengarkan kata orang demi kebaikan kita. Tapi kalau kamu keras kepala dan bilangnya "jangan dengarkan kata orang", berarti hakekat kita sebagai makhluk sosial gagal dong? #yeah
 
Ya nggak apa sih kalau kamu bangga dengan hubunganmu, senang dengan pacarmu, tapi sebagai seorang yang cherophobia, aku yakin di balik sebuah kesenangan pasti ada hal buruk yang terjadi nanti.

Sama kayak kamu menaruh sayang kepada orang yang kamu sayaaaaaang banget. Sehingga saat kalian di takdirkan untuk tidak bersama, kamu malah gak terima dan sakit hati yang mendalam. Yang akhirnya malah jadi bimbang dan dendam. Kalau ini sih karena hubunganmu yang nggak sehat. Yang nggak siap merelakan orang yang kamu sayang buat pergi.

Tapi itu juga salah kamu karena menjalin hubungan. Karena kamu sebenarnya masih gak siap. Siap pacaran berarti siap patah hati. Ibarat kamu itu burung yang gak siap terbang, tapi kamu paksain aja. Akhirnya jatuh deh. Sakit.

Apalagi itu burungmu sendiri lagi.

Serius, kamu gak bisa dibilang 'siap' kalau kamu gak bisa merelakan orang yang kamu sayang itu untuk setiap saat pergi demi apapun. Malah ketergantungan itu yang menjadikamu alay.
Kalau deket orang lain, kamu langsung insecure.

Kalau dia gak bales pesanmu, kamu bingung setengah mati.

Kalau dia pergi gak bilang, kamu bakal galau di sosmed.

Akhirnya pas putus, kamu ketergantungan si doi. Iya kalau masih saking suka, kalau kamu dicuekin? Sakit kan?

Dan akhirnya nggalau yang alay di sosmed deh. Hadeeeeeh.

Ya ga munafik sih, pernah juga kayak gitu. Tapi kalau udah sadar, buat apa ngelakuin kesalahan untuk kedua kalinya? Ye gak?

Banyak yang bingung masalah jodoh. Banyak juga yang memilih pacaran untuk mencari pujaan hati mereka. Padahal, jodohmu itu adalah cerminan kualitas dari dirimu sendiri. Seberapa baik kau menanam, yang kau petik adalah yang terbaik.

Wanita yang baik untuk laki laki yang baik, begitu pula sebaliknya.

Pacaran juga ga njamin buat kamu sampe nikah. Ya ada sih yang nikahnya dari mereka yang pacaran sejak zaman Megalitikum hingga abad globalisasi gini. Tapi seenggaknya, setiap orang punya cerita sendiri.

Ada yang bertahan dari masa masa mereka pacaran, dan ada juga yang dipertemukan secara tiba-tiba dalam momen yang ga terduga.

Tapi yang jelas, pacaran itu buang waktu buat kamu yang gak sehat. Yang cuma bikin pacarmu terkekang dan kalian jadi ga berkembang. Yang selalu hepi-hepi dan gak tau waktu.

Nggak bermaksud munafik, aku ya pernah gitu. Tapi buat apa di ulang lagi kalau itu salah?

Kalau kalian sekarang pacaran dan dalam hubungan yang sehat, gapapa, lanjutin.

Tapi serius, single itu lebih tenang dan tentram di dalam hati dan pikiran loh :p

Jomblo itu bukan single. Jomblo itu orang yang lagi cari pacar. Jomblo itu hidupnya resah. Mencariiiiiii terus. Kalau dicari sih bisa kok dapet banyak, tapi yang benar-benar pas? Masak iya setiap hati harus kamu jajal
Beda dengan single, mereka gak resah. Santai. Ga peduli dengan hubunganmu atau siapapun. Menikmati hidup. Gak iri liat kamu pacaran.

Mending perbaiki kualitas diri dan kalian mungkin bakal dipertemukan dalam kesamaan yang pas :3

2 komentar:

Menambah kritik akan membuka wawasan #eaa